Minggu, 31 Mei 2009

Artis-artis


Artis-artis di massa yang akan datang......,!
ni artis massa yang akan datang atau massa lampau ya..???
yang jelasnya! kalo butuh aktor komedi, action, horor, misteri, dan lain-lain, untuk buat film, bisa menghubungi, STSI Padangpanjang, yang beralamat di Jln. Bundo Kanduang. No.35 Padangpanjang Sumtara Barat.
Hehehehe....., Hitung-hitung sekalian Promosi Kampus.

Jumat, 29 Mei 2009

Analisis Secara Singkat Teori seni

  1. Teori Hegemoni. Konsep hegemoni adalah konsep politik pertama yang dikembangkan oleh Gramsci semasa mendekam dipenjara rezim Fascis. Hagemoni digunakan dengan mengacu pada sebuah kondisi dimana kelas dominan tidak hanya mengatur namun juga mengarahkan masyarakat melalui pemakasaan kepemimpinan. Moral dan intelektual. Hagemoni terjadi pada suatau masyarakat dimana terdapat tingkat kosensus yang tinggi dengan ukuran stabilitas social yang besar, kelas bawah dengan aktif mendukung dan menerima nilai-nilai, ide, tujuan, dan makna budaya yang mengikat dan meyatukan mereka pada struktur kekuasaan yang ada.

John Storey. 2004. Teori Budaya dan Budaya Pop. Yogyakarta : Qolam. Hal : 172-173.

  1. Teori Kepemimpinan. Kepemimpinan (Leadership) adalah kemampuan seseorang (pemimpin atau leader) untuk mempengaruhi orang lain (yang dipimpin atau pengikut-pengikutnya) sehingga orang itu bertingkah-laku sebagaimana yang dikehendaki pemimpin tersebut. Kadangkala dibedakan antara kepemimpinan merupakan suatu kompleks dari hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang yang dapat dimiliki oleh seseorang atau sesuatu badan yang meyebabkan gerak, dari warga masyarakat.

3. Teori Politik. Vernon Van Dyke meyatakan bahwa, The word theory is full of ambiguity (istilah teori memiliki makna ganda). Lebih lanjut Vernon Van Dyke meyatakan, banyak pengertian tentang teori, diantaranya : pemikiran (thoughts), dugaan (conjectures), atau juga gagasan (ideas). Berdasarkan hal itu Van Dyke meyimpulkan bahwa, thus political theory is political thought or political specualition, and all three trems involue the expression of political ideas or philosophizing about govermment, (dengan demikian teori politik merupakan pemikiran politik atau renungan politik, dan ketiga terma tersebut melibatkan ekspresi gagasan politik atau filosofi.

  1. Teori Strukturlalisme. Strukturalisme hanyalah merupakan suatu metode penelitian yang sederhana, yang selalu begitu dijaga oleh kaum strukturalis, satu cara khusus untuk mendekati dan merasionalisasi data dari peyelidikan bidang-bidang khusus. Strukruralisme merupakan metode yang cocok untuk dapat lebih memahami data empiris tentang insitusi pertalian keluarga, lembang suku (totemisme), dan mitos.

Jonh Sturrock. 2004. Strrukturalisme post-strukruralisme (Dari levistrauss sampai Derrida), Surabaya : Jawa Post Press. Hal : 3,5.

Contoh : Dalam pesta atau pekan budaya dipromosikan berbagai macam seni budaya setempat sperti tari-tarian, karawitan, musik, debus, dan lain-lain., disamping itu juga acara ini di buka oleh musik orkestra, dimana musik orkes ini mengabungkan musik barat dengan musik daerah yang ada. Seperti mengabungkan musik tradisi Minangkabau (serunai, saluang, dan lain-lain) kedalam musik barat agar orang datang baik itu wisatawan asing lokal maupun mancanegara tertarik untuk menjalin kerjasama untuk bisa memasarkan ke berbagai daerah di dunia.

  1. Teori Perubahan. Selo Soemardjan : perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan didalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola prilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Tekanan pada defenisi tersebut terletak pada tersebut terletak pada lembaga-lembaga kemasyarakatan sebagai himpunan pokok manusia, yang kemudian mempengaruhi segi-segi struktur masyarakat lainnya.

Soerjono Soekanto. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Raja Grafindo. Hal : 263.

Contoh : Seperti penggabungan musik tradisi ke dalam musik barat. Misalnya pada sebuah event disajikan musik bunian Minangkabau dengan menggunakan alat musik modern.

  1. Teori Difusi. Fritz Graebner dan Pater Wilhem Schmidt berpendapat bahwa manusia lebih suka meminjam kebudayaan lain, karena pada dasarnya manusia itu bukan pencipta ide baru. Mereka mengemukakan bahwa unsur-unsur kebudayaan dapat menyebar secara berkelompok atau juga secara satu-satu dan malalui jarak jauh.

T.O. Ihromi (Ed). 2006. Pokok-pokok Antropologi Budaya. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. Hal : 58.

  1. Teori Akulturasi. Para sarjana antropologi sepaham bahwa konsep itu mengenai proses social yang timbul bila suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.

Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta. Hal : 248.

  1. Teori Mitos. Mitos merupakan bentuk pengungkapan intelektual yang primordial dari berbagai sikap dan kepercayaan keagamaan. Mitos telah dianggap sebagai “filsafat primitive, bentuk pengungkapan pemikiran yang paling sederhana, serangkaian usaha memahami dunia, untuk menjelaskan kehidupan dan kematian, takdir dan hakikat, dewa-dewa dan ibadah”. Merupakan pernyataan yang dramatis, bukan hanya sebagai pernyataan rasional. Disebut sebagai pernyataan yang dramatis sebab melibatkan fikiran dan perasaan, sikap dan sentiment.

Thomas F. O’dea. 1996. Sosiologi Agama. Yogyakarta : Raja Grafindo Persada. Hal :79.

  1. Teori Evolusi adalah mungkin untuk mengidentifikasi dua perspektif evolusioner utama dalam karya Spencer (Haines, 1988; Perrin, 1976). Pertama, teorinya terutama berkaitan peningkatan ukuran (size) masyarakat. Masyarakat tumbuh melalui perkembangbiakan individu dan penyatuan kelompok-kelompok (compounding). Peningkatan ukuran masyarakat menyebabkan struktur makin luas dan makin terdiferensiasi serta meningkatkan diferensiasi fungsi yang dilakukan. Disamping pertumbuhan ukurannya, masyarakat berubah melalui penggabungan, yakni makin lama makin menyatukan kelompok-kelompok yang berdampingan. Dengan demikian Spencer berbicara tentang gerak evolusioner dari masyarakat yang sederhana ke penggabungan tiga kali lipat (trebly-compund). Spencer juga menawarkan teori evolusi dari masyarakat militant ke masyarakat industri. Pada mulanya, masyarakat militant menjelaskan sebagai masyarakat yang terstruktur guna melakukan perang, baik yang bersifat defensive maupun ofensif.

Dalam tulisannnya mengenai etika dan politik, Spencer mengemukakan gagasan evolusi social yang lain. Di satu sisi ia memandang masyarakat berkembang menuju keadaan moral yang ideal dan sempurna. Di sisi lain ia dengan lingkungannyalah yang akan tetap hidup (survive), sedangkan masyarakat yang tidak mampu menyesuaikan diri terpaksa manamui ajalnya. Hasil proses ini adalah penigkatan kemampuan menyesuaikan diri masyarakat secara keseluruhan.

George Ritzer – Douglas J. Goodman. 2004. Teori Sosiologi Modern, Jakarta : Kencana. Hal : 50-51.

  1. Teori Evolusi. Marshall Sahlin dan Elman Service, Adalah “siswa” dan kolega baik dari White dan Steward, telah mengombinasikan pandangan White dan Steward dengan mengakui dua macam evolusi yaitu khusus (specific) dan umum (general). Evolusi khusus menunjuka terutama pada urutan-urutan khusus dari perubahan dan adaptasi masyarakat tertentu yang berbeda dalam suatu lingkungan alam tertentu. Evolusi yang umum menunjuk pada kemajuan umum dari masyarakat manusia, dalam mana bentuk-bentuk yang lebih tinggi (berhubung maupun menggarap lebih banyak energi), bangkit dari dan malampaui bentuk-bentuk yang lebih terbelakang . jadi, evolusi khusus mirip dengan evolusi multilinear Steward, dan evolusi umum mirip dengan evolusi universal White.

T.O. Ihromi (Ed). 2006. Pokok-pokok Antropologi Budaya. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. Hal : 65.

  1. Teori Karakter. Heyman mengatakan bahwa karakter merupakan aspek bahwa individu yang pada umumnya tidak dapat dilepaskan dari keadaan konstituaional tubuh (kelenjar-kelenjara tertentu, cairan tubuh).

B. Simanjuntak dan I.I. Pasaribu, 1983, Psikologi Perkembangan. Bandung : Tan Sito.


Senin, 25 Mei 2009

Rabab Pariaman

Minangkabau memang kayaan akan seni dan budayanya. Selain talempong, di MInang kabau Juga terdapat alat (instrument) tradisional gesek yaitu rabab Pariaman, yang terdapat didaerah Pariaman Sumatra barat.

Rabab pariaman berasal dari daerah pariaman. Rabab pariaman tergolong instrument gesek karawitan di Minangkabau. Rabab periaman ini berbeda dengan rabab – rabab yang ada di daerah Minangkabau. Bukan hanya dari segi bentuk saja, melainkan rabab pariaman ini hanya mempunyai tiga buah senar saja, tetapi tidak kalah dengan rabab – rabab yang memiliki empat senar.

Fungsi rabab pariaman di Minangkabau hampir atau boleh dikatakan sama dengan rabab – rabab lainnya, berfungsi sebagai pengiring dendang dan pengiring cerita.

Laras nadanya do kurang ( tergantung suara pendendang ).


Kamis, 21 Mei 2009

Talempong

Talempong berasal dari berbagai daerah di minang kabau, yang berfungsi untuk acara sakral seperti: perkawinan, upacara – upacara. Talempong terbagi 2:

1. talempong pacik

2. talempong goyang

Talempong pacik dimainkan dengan cara:

- 5 buah talempong yang dimainkan dengan tiga orang

- Anak : 5 ( sol )

- Pambao : 1 – 3 ( do – mi )

- Paninggah : 2 – 4 ( re – fa )

- Diiringi oleh gendang katindiak dan tambur.

Dewasa ini talempong ini tidak hanya digunakan dalam acara, pekawainan, upacara-upacara. Talempong juga di pakai dalam bentuk komposisi orkestra, yang menggabungkan musik tradisi dengan musik konvesional ( orkestra).

Rabu, 20 Mei 2009

SASTRA MELAYU

Ringkasan Secara analisis, Puisi Melayu Terbahagi Dalam 12 Genre

1. Pantun

Sejenis puisi yang terikat; umumnya terdiri dari empat lirik serangkap, empat perkataan selarik, mempunyai rima akhir a-b-a-b dengan sedikit variasi dan kekecualian. Setiap rangkap terbagi kepada dua unit; pembayang atau sampiran, dan maksud, dan tiap-tiap rangkap dapat meyelesaikan satu keseluruhan idea.

Penjenisan pantun berdasarkan bentuk dan strukturnya yang tetap, yaitu dari segi jumlah larik yang serangkap: 2, 4, 6, 12 dan seterusnya; bentuk berkait, yaitu yang dikenali sebagai “pantun berkait”; dan variasi rima, termasuk yang menggujnakan pola rima syair. Oleh itu istilah-istilah yang merujuk kepada jenis-jenis pantun, seperti “pantun kanak-kanak”, “pantun kasih sayang”, “pantun budi” dan sebagiannya bukan tergolong sebagai penjelasan tema yang boleh berubah-ubah menurut tafsiran para pengkaji

Istilah istilah lain yang mempunyai cirri yang sam termasuk pantun-pantun yang melebihi empat larik serangkap (yang dikenali sebagai talibun), pantun seloka, pantun rejang, pribahasa, teromba dan teka –teki yang berkennaan dapat di masukin kedalm genre pantun.

2. Syair

Sejenis puisi yang terikat; umumnya terdirik dri pada empat larik serangkap, empat perkataan selarik, mempunyai rima akhir a-a-a-a dengan sedikit variasi dan kekekualian. Keseluruhan rangkap merupakan idea yang berurutan dan biasanya memerlukan beberapa rangkap untuk menyatakan keseluruhan idea.

Jenis-jenis syair juga tergantung pada jumlah larik serangkap dan variasi rima, misalnya syair dua larik atau kuplet, syair tiga larik serangkap, enam larikm serangkap dan syair berkait. Istilah-istilah seperti syair romantis, syair panji, syair sejarah, syair agama, syir simbolik dan sebagainya adalh sebagiab dari tema atau isi, buakn jenis atau bentuk.

Ke dalam genre syairini, dapat dimasukkan semua bentuk dan contoh yang mempunyai cirri yang sama, seperti seloka dalam bentuk syair, syair rejang, teka-teki, dzikir, dan mungkin puisi-puisi saduran atau terjemahan dari arab dan parsi, seperti ruba’I, nazam dan dzikir dalam bentuk syair.

3. Nazam

Sejenis puisi yang terkait; umumnya terdirik dari pada dua larik serangkap dengan jumlah perkataan antara empat hingga enam selarik dan skema rima a-a, a-b, c-b atau serima (monoryme), dengan sedikit variasi dan kekecualian. Nazam mungkin selesai dengan satu rangkap, tetrapi biasanya memerlukan beberapa rangkap yang berurutan untuk menyatakn satu keseluruhan.

4. Gurindam

Sejenis puisi yang tidak terikat atau tiada tentu bentuknya (sama ada terikat atau tidak). Bentuk yang terikat biasanya terdiri dari pada dua larik serangkap, hamper seperti syair dua larik atau nazam. Setiap larik mengandung tiga atau empat, enam atau lebih perkataan; dan pola rima a-a; a-b atau serima (monoryme). Tiap serangkap merupakan sebagihan dari pada idea yang brurutan dan biasanya memerlukan beberapa larik atau rankap untuk mryatakan satu keseluruhan idea.

Bentuk yang tidak terikat tergolong sebagai puisi bebas, sama ada berangkap atau tidak. Waulaupun setiap rangkap dapat berdiri sendiri tetapi biasanya memerlukan beberapa larik atau rangkap untuk meyatakan satu keseluruhan idea.

Dari segi bentuk ia sam seperti talibun, teromba atau mantera; tetapi tergolong sebagai gurindam karena isinya mengandung nasihat, pengajaran dan kebenaran., berbeada dengan mantera,. Gurindam tidak mengandung konotasi megis; dan berbeda dengan teromba, ia tidak merujukm pada salasilah atau undang-undang adapt bagi sebuah masyarakat.

Gurindam juga dapat merangkum puisi yang lebih bebas, yang secara sinkronis tergolong sebagai puisi modern, terutama di peringkat awal perkembangannya. Kebanyakan karya puisi dalam peringkat itu memperlihatkan kebebasan dari segi bentuk dan isi tetapi masih terkongkong kepada nilai-nilai puisi tradisional dari segi pola rima, rentak an unsure-unsur estetik yang lain.

5. Seloka

Sejenis puisi bebas yang tidak terikat, berangkap atau tidak (biasanya tidak berangkap); jika berangkap, tidak tentu jumlah larik serangkap, jumlah perkataan selarik, mempunyai rima atau tidak. Biasanya memerlukan beberapa larik yang berurutan untuk dapat menyatakan keseluruhan idea. Dari segi bentuk, ia sama dengan gurindam, talibun (bahasa berirama), teromba atau mantera; tetapi di golongkan sebagai seloka karena isinya mengandungi sindiran jenaka, mengusik, bersenda-gurau atau perasaan-perasaan asik, birahi, khayal dan mimpi.

6. Teka-Teki

Sejenis puisi yang tidak terikat; terdiri daripada selirik atau beberapa lirik yang berurutan, sama ada berangkap atau tidak, jumlah perkataan selaraik, tidak tentu jumlah larik serangkap, jumlah perkataan selarik atau serangkap dapat meyatakaan keseluruhan idea.

Dari segi bentuk, ia sama seperti gurindam, seloka, talibun. Teromba atau mantera dan mungkin mengandung bentuk-bentuk lain (atau seluruhnya), seperti pantun atau syair. Tergolong sebagai teka-teki karana isinya mengandung soalan atau tekaan terhadap sesuatu benda atau aspek, baik kongkrit maupun abstrak. Dari segi fungsinya, ia digunakan untuk maksud berteka-teki, untuk menguji dengan maksud bermain-main atau secara bersungguh-sungguh sebagai syembara atau pertandingan.

Terdapat juga teka-teki dalam bentuk prosa; atau selarik seperti pengucapan biasa, tanpa mempunyai unsure-unsur puitis.

7. Pribahasa

Sejenis puisi yang tidak terikat terdiri dari sekurang-kurangnya dua larik salarik serangkap dengan jumlah perkataan empat, enam atau lebih perkataan daalm selarik; mempunyai rima atau tidak. Tergolong sebagai pribahasa berangkap karena isinya adalah pribahasa dan dikenali sebagai pribahasa; jenis bidalan, maupun pepatah, perumpamaan, perbilangan, tamsil, ibarat atau lidah pendeta. Setiap serangkap dapat menyatakan satu keseluruhan idea.

8. Teromba

Puisi yang tidak terikat dan tidak tentu bentuknya ( sama seperti gurindam dan seloka); berangkap atau tidak. Jika berangkap tidak tentu jumlah lariknya dalam serangkap, jumlah perkataan dalam selarik, mempunyai rima atau tidak. Tergolong sebagai teromba karena isinya mengandung atau merujuk kepada peraturan atau undang-undang adapt bagi suatu kelompok masyarakat; misalnya adapt pepatih dalam masyarakat Minangkabau; baik diMinangkabau maupun ditempat lain, sepeti masyarakat keturunan Minangkabau di Negeri Sembilan dan Malaka. Teromba juga mengadung bentuk-bentuk lain juga, khusunya pantun dan pribahasa.

9. Talibun (atau bahasa berirama)

Puisi yang tidak tentu bentuknya, berangkap atau tidak. Jika berangkap tidak tentu jumlah larik dalam serangkap, dan jumlah perkataan dalam selarik, mempunyai rima atau tidak. ; bgiasanya memerlukan beberapa larik atau rangkap yang berutan untuk menyatakan kesatuan idea.

Dari segi bentuk, ia sama seperti gurindam ( malah selalu dirujuk sebagai gurindam), seloka atau teromba. Tetapi di sini ia tergolong sebagai talibun (atau bahasa berirama) berdasarkan isi dan fungsinya. Talibun adalah rangkap-rangkap puisi yang merupakanpenceritaan terperinci tentang suatu objek atau perisitiwa dalam cerita-cerita yang umumnya di kenal sebagai “lipur lara”. Umumnya funsi talibun adalah sebagai rangkap-rangkap pemeriahan dalam karya-karya naratif berbentuk prosa dan ia diulangi di beberapa tempat dalm sebuah cerita atau dalm cerita lain dalm gfenre yang sama.

Sebelum ini kata “talibun” digunakan kedalam bentuk pantun yang lebih dari empat larik serangkaptetapi istilah itu di rasakan tidak tempat dan diperlukan. Talibun lebih sesuai digunakan bagi bentuk yang dimaksudkan disini.

10. Prosa Berirama ( atau prosa larik )

Puisi yang tidak tentu bentuknya, tetapi terdiri daripada larik-larik yang berurutan, berangkap atau tidak, mempunyai rima atau tidak. Dari segi bentuknya, ia sama seperti talibun malah mungkin terdiri daripada larik-larik atau rangkap-rangkap talibun, atau mengandung bentuk-bentuk yang tergolong kedalam genre yang lain: pantun, syair atau gurindam. Disini prosa berirama tergolong dalam prosa lirik karena bentuknya yang hamper sama dengan prosa; misalnya cerita-cerita lipur lara, khususnya kaba dalm dalam satra Minangkabau.

11. Mantera

Puisi yang tidak tentu bentuknya, berangkap atau tidak. Jika berangkap tidak tentu jumlah larik dalam serangkap, dan jumlah perkataan dalam selarik. Mungkin mengandung bentuk-bentuk yang lain, misalnya pantun; dan biasanya memerlukan beberapa lirik atau rangkap yang berurutan untuk membina satu keseluruhan. Dari segi bentuk dan struktur mantera sama seperti talibun, teromba dan lain-lain. Ia tergolong kedalm mantera karena isi dan fungsinya sebagai “mantera” dan digunakan untuk tujuan pengobatan, upacara dan permohonan.

12. Dikir

Puisi yang tidak tentu bentuknya, mengandung larik-larik yang berurutan, baik berangkap atau tidak. Jika berangkap, tidak tentu jumlah larik serangkap dan jumlah perkataan dalm selarik. Dari segi bentuk, ia sama seperti talibun, teromba, nazam dan lain-lain. Ia tergolong kedalam dikir karena kebanyakan isinya bersifat keagamaan: memuji Allah dan Rasul atau merupakan sebahagian daripada riwayat hidup Rasulullah. Walaupun dari segi bentuk, ia mungkin sama seperti nazam tetapi berbeda justru nazam mempunyai bentuk yang tetap, seperti yang telah disebutkan.

Sumber ; (Edisi Kedua, Harun Mat Piah, Ismail Hamid, Siti Hawa Saleh, Abu Hassan Sham, Abdul Rahman Kaeh, Jamilah Haji ahmad, KESUSATERAAN MELAYU TRADISIONAL, Hal. 19-23)

Jumat, 24 April 2009

Naik-naik ke puncak gunung......






Fhoto-fhotoku, di atas gunung merapi Padang panjang.
Sumatra Barat, memiliki banyak tempat wisata dan kekayaan alam. Salah satu kekayaan alam yang ada di Sumatra Barat, terdapat didaerah Padang Panjang. Padang Panjang merupakan salah satu kota kecil yang ada di Sumatra Barat, yang di kelilingi pergunungan dan bukit-bukit, ada gunung singgalang, merapi, tandikek, dan bukit tuwi.
nah......., bagi-bagi teman Mapala, pencinta alam lainnya, yang ingin menghirup udara segara dan melihat keindahan alam, datang aja ke Padang Panjang. Pasti memuaskan loh. kalo uda di atas puncak Gunung merapi Padang Panjang, semua masalah, rasa letih, pegal, selama dalam perjalanan mendaki gunung ini akan hilang, setelah melihat panorama alam yang begitu indah dari atas puncak Merapi. dari puncak merapi kita bisa melihat Danau Maninjau, Danua Singgarak, dan banyak lagi panorama alam yang bisa kita lihat dari atas puncak Merapi.